Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E)

Tulisan ini ingin menggugah para pecinta pengetahuan khususnya bidang Geodesi dan Geomatika. Terutama mengenai Pendidikan Geodesi dan Geomatika di Indonesia.

Mengapa? Fakta-fakta menunjukkan indikasi bahwa pendidikan Geodesi dan Geomatika belum mampu membentuk insan berpengetahuan yang mampu memecahkan permasalahan hidup umat manusia dengan pengetahuan Geodesi dan Geomatika yang didapatkannya selama mengikuti pendidikan. Kata kuncinya adalah ‘pengetahuan’ dan ‘operasional’ atau praktik terbaik (best practices) yang melekat dalam keseharian insan geodesi/geomatika. Praktik terbaik tersebut haruslah berbasis kepada pengetahuan yang terus berkembang melalui perbaikan gagasan-gagasan pokok pengetahuan Geodesi dan Geomatika.

Apa saja fakta-fakta tersebut? Beberapa bisa disebutkan di sini. Praktikum kita sudah ditinggalkan pengawasannya oleh dosen, tidak seperti jaman generasi pertama angkatan mahasiswa geodesi yang dibimbing langsung oleh akademisi sekaligus praktisi (pelaku) bisnis dan penelitian yang terlibat juga dalam forum-forum internasional yang dapat kita lihat sebagai pengakuan internasional terhadap kualifikasi keilmuan dan kompetensi keahlian dosen geodesi kita kala itu.

Kita juga melihat sistem remunerasi dosen belum jelas dan proporsional dan fair. Sistem pembagian waktu mengajar, meneliti dan mengerjakan project, belum tampak jelas pembebanannya. Dan pembebanan ini harus disertai keadilan dalam pemberian remunerasi atau penghargaan atas kinerjanya. Sejauh ini, dosen yang konsentrasi dan memenuhi waktu kerjanya dengan mengajar tidak mendapatkan penghargaan yang seimbang atau sebanding dengan dosen yang meneliti dan menghasilkan project.

Di korea misalnya, dosen dibedakan atas dosen peneliti dan dosen pengajar. Juga ada dosen yang mengerjakan administratif yang duduk di rektorat dan jabatan struktural maupun fungsional lainnya. Pembagian kesejahteraan dosen, diberikan secara fair sesuai beban kerja dan beban waktu yang dipikulnya. Dengan pengalokasian bidang peneliti, pengajar dan administratif, maka setiap dosen akan dapat fokus pada penelitiannya, mahasiswanya, dan tugas-tugas administratifnya. Sehingga dapat dihasilkan penelitian yang berkualitas, mahasiswa yang benar-benar memahami pengetahuan di bidangnya, dan manajemen kampus yang elegan dan akuntabel.

Pengetahuan yang kita dapatkan di perkuliahan lebih bersifat informasi, dan bukan inovasi-inovasi terbaru dan kita tidak diajarkan cara berpikir inovasi baru tersebut untuk dapat mengikuti dan bahkan membuat yang serupa atau lebih baik yang bercirikan khas teknologi yaitu mampu memecahkan permasalahan hidup manusia.

Rethinking atau memikirkan kembali, adalah suatu kerja berpikir untuk menghasilkan konsep dan kerja untuk panduan melaksanakan sesuatu. Memikirkan kembali Pendidikan Geodesi dan Geomatika di Indonesia adalah meninjau kembali seluruh aspek pendidikan secara objektif untuk mendapatkan konsep Pendidikan Geodesi dan Geomatika berstandar internasional di Indonesia.

Mari kita mulai.

Apa yang dimaksud dengan Pendidikan?

Apa yang dimaksud dengan Geodesi dan Geomatika?

Pendidikan adalah proses mendidik seseorang untuk mampu menguasai pengetahuan tentang sesuatu. Pendidikan haruslah ditujukan untuk membekali peserta didik untuk dapat memecahkan persoalan-persoalan manusia untuk mencapai kesejahteraan umat manusia.

Geodesi dan Geomatika adalah pengetahuan ilmiah tentang bumi yang berkaitan dengan pengukuran dan penyajian Bumi termasuk medan gravitasinya dalam kerangka ruang tiga-dimensi yang bervariasi terhadap waktu.

Jadi, Pendidikan Geodesi dan Geomatika haruslah dimaksudkan untuk membentuk manusia yang mampu menguasai pengetahuan tentang pengukuran dan penyajian bumi dalam kerangka ruang waktu untuk memecahkan permasalahan-permasalahan hidup umat manusia.

Apa saja permasalahan-permasalahan hidup umat manusia yang dapat dibantu dengan mempelajari dan menguasai pengetahuan geodesi dan geomatika? Banyak sekali, di antaranya adalah bagaimana mengurangi resiko akibat bencana gempa bumi, bagaimana mencegah dan mengatasi bencana banjir, bagaimana mengatasi atau mencegah bahaya kebakaran hutan, bagaimana mempermudah dan mempercepat transportasi/pengangkutan, bagaimana membangun kota yang tertata rapi, bagaimana mendapatkan gambaran potensi dan mengelola sumber daya alam di wilayah pesisir dan lautan untuk menghasilkan kesejahteraan bagi nelayan dan masyarakat serta menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi negara, dan persoalan-persoalan hidup untuk kesejahteraan manusia lainnya.

Penting ditekankan di sini adalah bahwa pendidikan sebagai proses, harus dapat menghasilkan manusia yang mampu menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Sebab, untuk apa lagi pendidikan, bila bukan untuk memecahkan masalah-masalah demi kesejahteraan manusia, melindungi manusia, memudahkan cara hidup manusia? Bukankah tujuan pendidikan adalah untuk membangun manusia-manusia cerdas untuk mengatasi berbagai masalah ini?

Mari, kita mulai menata kembali semua yang sudah kita mulai, dari apa yang ada, dan kita tanyakan kembali kepada hati nurani, apakah akan kita lanjutkan dan kita benahi, atau kita bongkar dan memulai dari awal, sesuatu yang baru?

Silakan memberikan komentar, masukan dan saran.

Terimakasih.

18 Responses

  1. wah, bahasannya beratttttttttttt, sampeyan isih iling kuliah tah mas?

  2. Hmm..saya setuju..tapi itulah indonesia…, Kurangnya penghargaan kepada orang selalu tidak pernah dilakukan…and so tdk heran orang pinter di indonesia lari keluar semua dari indonesia. Pola pemerinthan apapun yg ada sampai saat ini tetap tdk pernah berpihak kepada rakyat. Selalu saja daerah jadi korban atau orang yg pinter jadi korban. Kondisi politis juga saat ini menganut pemahaman hanya untuk kepentingan sendiri dan bukan memihak kepada rakyat. Ya salah kita sendiri..pilih pemimpinnya begitu…, tapi mau pilih siapa lagi…yang kita pilih semua dari A s/d Z sama semua….bukan begitu..?

  3. Faktor pemimpin memang sangat menentukan warna bangsa dan pendidikan kita. Diskusi ini ingin mengulas secara objektif, dan mengajak semua untuk berpikir maju, bahkan mengajak untuk berpikir sangat maju, lepas dari kendala yang ada, terhadap arti proses manusia sebagai makhluk paling mulia di dunia ini untuk memahami bahwa kesejahteraan manusia adalah untuk diperjuangkan, di antara segala permasalahan yang dihadirkan di depan umat manusia itu sendiri, melalui pengetahuan yang dapat diperoleh dari usaha sungguh-sungguh dalam mendekati dan memperbaiki gagasan-gagasan tentang fenomena alam, salah satunya gagasan mengenai ukuran bumi dan penggambarannya di atas kertas maupun animasi 3D.

  4. Berikut komentar dari kawan Heri Andreas, staf Pengajar pada Departemen Teknik Geodesi dan Geomatika, ITB:

    keren keren di…
    calon mendiknas neh sigana si adi euy..hehe,
    ditambahin di,
    ketersediaan infrastruktur teknologi di universitas cukup memprihatinkan :)
    kalo diluaran sudah bicara embeded integrated GPS Total Station, di kita masih ngutak ngatik teodolit vickers :)
    kalo diluaran sudah bicara RTK, GPS_GLONASS, di kita masih ngutak ngatik GPS plus aki mobil, plus kabel antena putus-putus sinyalnya :)
    kalo diluaran sudah bicara LIDAR, Terrestrial Scanning, di kita masih ngutak ngatik stereo plotter..
    Kita belajar geodesi fisik/ Gravimetri tapi kagak punya alat Gravimeter satu pun :)

    mengajukan pengadaan barang-barang high tech tersebut, paling 30 tahun lagi baru didanai…,
    karena alokasi dananya boro-boro ada…

    yah…
    geodesy geomatics sampe mampus 3X

    itu yang kita bisa lakukan…hehe,

    ngeluh…gampar. ..hehe

    cheers,
    yayas

  5. Komentar saya,

    Nah, yg seperti ini kita inginkan dari angkatan muda, sebagai cerminan keinginan untuk berubah, terbuka, fair, bersemangat kolaboratif dan sangat modern.

    Buset, ternyata yayas terus berdedikasi untuk kemajuan geodesi.

    Banyak hal dikemukakan yayas:
    - manajemen administratif yang belum mampu mengatasi perbaikan fasilitas belajar-mengajar
    - pola pengajaran yang masih lecture oriented, dan bukan student oriented, dibuktikan dengan konvensionalnya pengajaran dan fasilitas yg ada. Bagaimana mengajarkan sesuatu yang baru bila tidak didukung peralatan?
    - Senada dengan yg saya ungkapkan di tulisan, yayas menyampaikan bahwa pengajaran masih bersifat informasi, kita hanya tahu ada informasi teknologi baru, tetapi tidak pernah menyentuhnya, atau memahami esensinya, menggunakan saja belum pernah, apalagi membuat perangkat yang serupa.

    Maju terus yas, ayo siapa lagi mau mendukung perubahan?!!

  6. Menurut saya Geodesi dan Geomatic saat ini sangat diperlukan untuk memetakan permasalahan pendidikan di Indonesia. Pemetaan dan survey objective terhadap berbagai masalah pendidikan di Indonesia harus diungkapkan secara tegas. Tentunya harapan kita dimengerti dan di respon positif oleh pejabat diknas di Indonesia. Tetapi perkiraan sy justru itu merupakan tujuan jangka panjang (kecuali ada hidayah buat pejabat di Indonesia).

    Jangka pendek yang bisa kita lakukan adalah survey dan memetakan permasalahan pendidikan dan membuat suatu program berasas manfaat untuk pendidikan kita meskipun tidak formal.

    Hehehe. jadinya geodesi dan geomatic ditempat kita bisa diterapkan ke suatu yang substansi dan abstract. itu mungkin jadi kelebihan geodesi geomatic di Indonesia. lebih SOFT. tidak sekedar memetakan bumi saja.

  7. Sebenarnya, dilihat dari posisi gegrafis, Indonesia bisa menjadi surga bagi para geodet dan geomaticers. Indonesia dilintasi oleh garis ekuator, diproyeksikan dengan silinder merkator saja sudah tergambar seluruh daerahnya. Untuk para penyuka geodinamika, di Indonesia terdapat pertemuan 3 lempeng benua (setahu saya tidak ada lagi negara yg terdiri dari 3 lempengan dunia, CMIIWW). Atribut sumberdaya alam sangat banyak untuk di spasialkan. Ah…. benar-benar surga.

  8. Wah Adi euy..
    masih kaya yang dulu..
    semangat dan selalu anti-kemapanan, keep going lah..bos

    kalau urusan ngajar-mengajar dan produk pendidikan mah gak di G&G aja..sama dimana-mana..kurang dana..kurang pasilitas..kurang profesional..suport pemerintah yang jelek..etc

    tugas rekan di kampus G&G bagaimana membangun kultur akdemik yg optimum dgn segala keterbatasa sarana..(pasti hese nu kieu teh..heehe), sehingga mampu mencetak sarjana yang edun..

    tugas rekan2 di diknas dan instani pemerintah..bagaimana anggaran 20% buat pendidikan dari APBN..segera mengucur…atur kebijakan yang mendiskon jurnal dan buku2 terbitan luar dan alat ukur yang diperlukan para akademisi di kampus dan sekolahan. Kalau bisa meniru india dan thailan yang mensubsidi buku2 text book itu sudah bagus..
    ini tugas rekan2 di pemerintahan..khususnya kurawa Diknas..

    tugas rekan2 di kompani dan pengusaha..bagaimana menciptakan lapangan kerja..dan kalau bisa mampu mendirikan divisi RD dimana kelak akan menyerap sarjana yang akan melakukan riset di industrinya masing2 , sehingga ilmu G&G berkembang juga selain di dunia kampus…(hehe..kayaknya imposible yah..). Malah industri seperti ini yang akan memberikan kontribusi lebih buat kemanusian ketimbang kampus.

    intinya mari semua elemen bekerja sama…
    suramnya dunia G&G bukan karena rapuhnya sistem pengajaran dan penelitian di dunia kampus..but I believe, all of you might have contributed as well…!!!

  9. Om Dudi mengajarkan banyak hal, nantinya poin-poin masalah yg disampaikan kang heri andreas dan om Dudi akan jadi topik-topik pembahasan berikutnya. Menurut saya, om Dudenk menyoroti pada topik-topik berikut:
    - saling kerjasama, merupakan konsep kekompakan yang harus dikedepankan dalam mencapai satu tujuan. Kekompakan mengandung arti persamaan, dan persamaan mengandung arti tidak memandang gelar atau jabatan dalam pengertian lebih mengutamakan kolaborasi dan semakin besar kolaborasi (lihat referensi ‘wikinomics’: konsep mass-collaboration, oleh Don Tapscott.) Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, manajemen kampus, industri, pemerintah, rakyat kecil, parlemen, dll.
    Tanpa kerjasama, negara ini sulit maju, negara dibangun oleh kelompok-kelompok usaha, kelompok masyarakat, kelompok ilmuan, dll, dan masing2 kelompok ini juga berorganisasi dengan tujuan dan AD/ART masing-masing namun dalam kerangka visi yang sama yakni demi kesejahteraan manusia.

    - serapan lapangan kerja, harus ada konsep untuk menyerap pekerja dalam berbagai keahlian dan minatnya, apakah sebagai peneliti, administratif/struktural, pengusaha, pegawai, dll. dan masing-masing posisi saling berkolaborasi dan menghargai, karena masing-masing ini adalah komponen yg membangun satu bangunan, tdk dapat berdiri sendiri-sendiri.

    - dukungan anggaran. menurut saya, dukungan anggaran untuk pendidikan haruslah tak terbatas, dalam pengertian bahwa program itu mendahului anggaran, artinya tidak boleh alasan keterbatasan anggaran itu menjadi penghambat program/kegiatan. harus dicari cara untuk mendapatkan anggaran sesuai dengan peruntukannya yg tepat.

    Thanks dud.

  10. Sepakat denx.
    Itulah yang diperlukan, masing2 berperan di dunianya masing2, dengan bersinergi, dan saling mensupport sehingga tercipta harmoni yang konstruktif.

    Namun satu hal yang mungkin kadang2 dirasakan adalah kita mungkin berpikir telah berperan dengan maksimal dalam dunia kita, akan tetapi tidak demikian halnya dengan orang lain di dunia yang berbeda.

    DIALOG,
    Sharing,
    itu mungkin yang harus sering dibuka.

    Ajang dialog di forum seperti ini bisa jadi salah satu sarana yang dikembangkan untuk saling berbagi pengalaman, berkeluh kesah, dengan bebas.
    Pertanyaan2 spt di bwh ini tentu bisa di-share dengan lepas:
    Dunia kampus butuh apa dr diknas? dr kompani? dr alumni?
    Dari kompani bisa share: lulusan spt apa yang dibutuhkan? kenapa enggan pake lulusan G&G ITB?

    Saya ingat jaman2 kul dulu, saat tahun II & mulai masuk jurusan, pertanyaan yang selalu menggelitik: Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?
    He3.. Pertanyaan2 itu masih ada di mahasiswa2 skr nggak ya? Blm denger euy

  11. Wah.. beurat euy, tulisan calon pejabat mah memang beda he2x…

    Tapi kalau pendidikan di PT hampir sama, temen saya ngambil S2 di Tsukuba univ-japan karena sense nya sibuk proyek, kuliah satu semester di padatkan jadi satu hari, ga ada ujian akhir pas keluar nilainya A semua he2x.., ada juga temen di chiba univ dia ga ikut ujian akhir, sudah pasrah… tapi keluar nilai A juga, temen di belanda juga ngalami hal yang sama, jadi “sabelas-duabelas” jeung pendidikan PT di Indonesia, malah lebih berat di ITB, ngambil HPG & STK sampai “hatrick”.. ha2x..

    Dan kalau kita melihat sistem pendidikan dasar contohnya di jepang, ga ada yang namanya anak disuruh menghitung, membaca apalagi menghapal, yang ada hanya main!! tapi dengan seperti itu saya melihat semua “karakter” pada anak itu muncul, nah disitulah semua karakter yang baik terus di pupuk dan ditambah dan yang kurang baik diperbaiki.

    Jadi kalau sudah masuk PT, pratikum di tinggalkan dosen, dosen nya sibuk ga pernah ngajar, ya ga masalah… mahasiswa sudah bisa mandiri apalagi di Indonesia juga akses internet sudah semakin canggih, butuh informasi G&G tinggal akses “om google” beres deh.. he2x..

    Jadi menurut saya masalah yang lain yang kurang di Indonesia adalah pembangunan karakter he2x…

    Pengalaman temen saya di jepang setiap pagi masuk kantor satpam selalu ngasih salam sampai bungkuk-bungkuk segala padahal dia hanya pakai sepeda dan satpam itu pulang/pergi kantor pake honda jazz, begitu juga dengan tukang bersih2x walaupun datangnya seminggu 2x tapi setiap senin-kamis ruangan sudah bersih dan nyaman sangat profesional. begitu pula dengan atasannya walaupun istirahat hanya satu jam suka ngajak olah raga, ngobrol dengan sopan, santun dan sangat menghargai satu sama lain, bersinergi dan saling membantu dengan lainnya. dan pada jam kerja sibuknya minta ampun walaupun progress kerjaan hanya sedikit tapi sangat dihargai, atasannya hanya bilang walaupun kecil tapi sudah memberikan arti, terus kerjakan jangan terlalu banyak membaca dan berfikir tapi implementasikan supaya lebih menambah arti.

  12. mmm… kawan nurudin lebih melihat geodesi secara filosofis dan meluas sebagai ‘pemetaan’ pemikiran, dalam hal ini bagaimana ‘memetakan’ masalah pendidikan ini secara lebih komprehensif. Sangat masuk akal, persoalan2 sosial seperti ini dapat dipetakan dengan sistem informasi geografis. Apa saja itu? Misalkan pemerataan kualitas pendidikan berdasarkan wilayah, variasi tingkat buta huruf antar daerah, variasi kualitas guru antar daerah. Mungkin dalam tulisan berikutnya, dapat disimulasikan pemetaan masalah pendidikan di Indonesia. Termasuk, bagaimana variasi anggaran yang digunakan, sebagaimana om dudenx menyarankan untuk digenjot hingga 20% APBN/APBD, apakah seluruh daerah sudah care dengan hal ini, dibuktikan dengan grafik variasi alokasi anggaran per daerah yg dirasionalisasi dengan PAD masing-masing daerah. Ada yg tertarik untuk menyumbang ide?

  13. Saya sangat setuju sekali dengan rekan Ramdhan. Memang, apa yang diungkapkan rekan ramdhan sangat tepat. Saya menggarisbawahi, bahwa kekayaan geomorfologis yang dimiliki Indonesia adalah seharusnya melambangkan kekayaan pengetahuan manusia Indonesia.

    Mengapa? Karena, semakin kita dianugerahi potensi alam dan fenomena alam, maka akan semakin kita berusaha untuk memahami dan mengolah dan mengatasinya, dan ini berarti akan semakin luas pengetahuan kita. Dengan demikian semakin luas ladang amal kita. Hehehe… Memanfaatkan akal, membangun peradaban, menyelamatkan manusia yg hidup di atas garis rentetan gunung api bersumber dari rekahan lempeng tempat keluarnya magma super panas! Bukankah ini ladang pengetahuan dan ladang amal? Tentu, juga merupakan ladang proyek. Hanya saja pendanaan untuk ini haruslah tak terbatas, dalam arti kitapun mampu membangun pendapatan tak terbatas. Jangan lupa, potensi alam kita pun tak terbatas, yang berarti pendapatan tak terbatas juga.

    Ini akan menjadi topik seru. Fenomena alam Indonesia memanggil para geodet dan geomaticers.. Terimakasih rekan Ramdhan.

  14. Sepertinya kita harus cukup serius mendalami arti sinergi dan kolaborasi. Kawan Fauzi telah mengajak kita untuk terus berdialog, memberi kesempatan kepada siapapun untuk memberikan masukan terhadap pendidikan geodesi dan geomatika yang lebih baik. Kawan Soni pun telah memberikan contoh.

    Bola salju kolaborasi ini harus digulirkan. Kita harus merapat, saling menempel, membentuk bola salju yg lebih besar, dan bergerak-bergulir supaya berubah menjadi lebih besarlagi. Bagaimana caranya? Sedangkan kita masing-masing terpisah jarak dan waktu? Dan juga terpisah bidang pekerjaan dan komitmen dengan atasan dan organisasi masing-masing?

    Saya ingatkan lagi. Masing-masing kita berkembang dengan alami, dengan caranya sendiri-sendiri, namun ingat, kita masih belum merasakan makna pendidikan geodesi dan geomatika yang membuat kita tetap terikat pada almamater. Mungkin harus diakui, kita terikat di sini, saling berbagi pendapat, mungkin hanya karena kita juga telah mandiri secara individu.

    Seharusnya kita terikat disini, karena kita cinta almamater. Seharusnya kita saling berdiskusi di sini, karena mengingat betapa kita sekarang mandiri karena dibangun oleh padatnya informasi dan kegiatan penelitian, pengajaran, praktik, kuliah kerja, penulisan ilmiah, yang terangkum dalam proses Pendidikan selama di kampus dulu. Tapi saya kira tidak.

    Saya bukan anak (alumni mahasiswa) yang durhaka pada orang tua (para dosen dan jajarannya), dan bukan sedang melawan beliau yang telah mendidik dalam proses pendidikan di kampus. Tetapi bahkan, saya juga ingin ‘orang tua’ yang telah mendidik kita di kampus juga mulai berpikir, untuk dapat mencetak anak-anak yang lebih berkualitas, dengan fasilitas yang lebih baik. Saya yakin, beliau-beliau pun bersedih, menyaksikan anak-anaknya tidak dididik dengan fasilitas yang cukup dan modern. Bukankah seharusnya setiap orang tua menginginkan hal yang demikian?

    Saya juga tidak mengatakan pendidikan di luar negeri sudah ada contoh. Bahkan saya katakan, belum ada model pendidikan ideal, bahkan di luar negeri, yang sangat maju, dan menghasilkan hal-hal yang maju. Memang telah ada berbagai teknologi yang disebutkan kawan Yayas. Tetapi saya yakin, manusia Indonesia pun mampu bila mau mempelajarinya, bahkan mengunggulinya. Mungkin ada kawan yang ingin share tentang orang Indonesia yang telah eksis di luar negeri. Saya kira banyak. Dan ini adalah inspirasi bagi kita bahwa kita bisa melakukan apa yg dilakukan oleh negara termaju sekalipun.

    Yang saya ingin katakan adalah, bahkan kita mampu berbuat lebih, dan lebih maju, dan tidak perlu selalu berkiblat ke eropa dalam hal ilmu pengetahuan. Meniru kurikulum Jerman atau Italia atau negara manapun itu boleh, namun harus segera diadaptasi dengan muatan lokal, dan diserap ilmunya untuk ditemukan oleh kita sendiri peralatan yang serupa bahkan lebih baik. Konsepnya sederhana, gunakan metode ilmiah, dan terus berusaha, diiringi ketekunan, sabar, dan doa. Saya kira inilah mentalitas ilmuwan yang sesungguhnya.

    Kuncinya, adalah pendidikan. Mari mulai dari pendidikan. Bukan dari ekonomi. Bukan dari politik. Jadi mari curahkan perhatian kita pada pendidikan, apapun masalah yang kita hadapi. Selamatkan anak-anak muda, kawan-kawan, adik-adik kita, dari pendidikan yang keliru!! Mari kita bela mereka!

  15. Untuk pernyataan kawan oji “Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?”

    Menurut saya ini pertanyaan jebakan. Jebakannya lebih bersifat psikologis. Semua pengetahuan itu baik dan ada manfaatnya. Kalo kita berorientasi kepada materi, maka pikiran kita tidak akan pernah tenang, dan tidak akan pernah cukup mengejar materi.

    Sebaliknya, jika kita mengejar pengetahuan, maka materi pun akan ikut. Saya katakan sebelumnya bahwa program/kegiatan pun seharusnya didanai oleh ‘dana yang tidak terbatas’ untuk mencapai kesejahteraan umat manusia. Kata kuncinya adalah pengetahuan. Dan bukan materi.

    Pengetahuan mengenai fenomena alam, adalah terus menerus merenungkan kejadian alam dan kita akan terus mencoba mendekati dengan gagasan-gagasan dan model-model matematis untuk dapat memprediksi terjadinya fenomena alam berikutnya atau memprediksi apa yang menjadi akibat-akibat yang akan ditimbulkannya, untuk selanjutnya mungkin kita dapat juga mengolahnya, atau memberikan peringatan kepada manusia untuk menghindari dan mengevakuasinya.

    Sistem informasi geografis untuk memprediksi bahaya banjir, bahaya ledakan gunung berapi, bahaya kebakaran hutan dan lain-lain bahaya bencana alam, akan bermanfaat untuk mengurangi resiko akibat bencana tersebut dan pada akhirnya menyelamatkan banyak hidup umat manusia. Dan pemerintah seharusnya berpikir untuk mendanai project GIS seperti ini yang jelas-jelas telah membantunya untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

    Sistem informasi geografis yang memetakan daerah aliran sungai, dapat digunakan untuk mengelola sumber daya aliran sungai untuk diolah menjadi tenaga air untuk membangkitkan listrik. SIG yang dapat secara komprehensif menyajikan potensi aliran sungai, kapan surut, kapan berpotensi, dan kapan akan habis, atau bahkan akan bertahan sekian puluh atau ratus tahun, sangat bermanfaat untuk memperkirakan ketersediaan sumber listrik berbangkit tenaga air. Sistem informasi geografis yang dapat menyajikan peta sumber panas bumi juga dapat membantu pemerintah untuk mencari daerah-daerah berpotensi menyediakan tenaga panas bumi.

    Kembali kepada pertanyaan kawan oji, apakah masih ada mahasiswa yang merasa menyesal masuk jurusan geodesi. Saya kira pertanyaan ini konyol, dan tidak menghargai pengetahuan. Saya kira maksud kawan oji adalah bahwa proses pendidikan yang ada di departemen geodesi manapun telah mengajarkan hal yang keliru, sehingga mahasiswa geodesi merasa tidak mendapatkan apapun dari perkuliahan geodesi. Atau dengan kata lain menyesal, padahal pengetahuan tentang fenomena alam sangatlah luar biasa, ilmu pengukuran bumi adalah tidak banyak yang memperkirakan bahwa posisi di manapun di muka bumi dapat ditentukan secara akurat sehingga tidak satu lokasipun dapat lolos dari pengamatan satelit global.

    Hghhh… saya sangat tergelitik memang dengan pertanyaan kawan oji tersebut yang dirasakan saat memasuki tingkat II pada masa perkuliahan. Dan saya juga sangat gerah melihat bahwa pengetahuan telah dinomorduakan, entahlah itu oleh proses pendidikan maupun oleh para pemangku pendidikan, yang bertanggungjawab atas pendidikan itu sendiri, yang katanya mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa.

  16. Passss …. mbuka blog om adi malem2 langsung ngantuk, cocok untuk orang yang mendirita insomnia .. (heheh canda om)

  17. Nah sekarang komentar serius (serius mode On)

    Ada yang perlu di luruskan kembali dalam konsep pendidikan di Indonesia. Sesungguhnya konsep pendidikan masih belum dalam taraf seperti yang Om Adi sampaikan di atas, dalam artian konsep pendidikan di Indonesia masih sampai kepada taraf “Pengajaran” di mana yang lebih di tekankan adalah pertemua tatap muka di depan kelas antara “yang mengajar” dan yang “di ajar” yang menghasilkan nilai .. just it. Sehingga apa yang terjadi ? out put yang di hasilkan kebanyak mencipatakan “penghapal-penghapal” demi mencapai perolehan nilai yang baik (orientasi nilai).

    Belum pernah saya lihat (atau emang saya yang kuper yak) bahwa kegiatan belajar mengjar bersifat mendidik, di mana outpun peserta didik yang di hasilkan adalah orang-orang yang mampu menganalisa dan sesuatu mencari solusi suatu permasalahan (problem solving) apalagi sampai pada tahap “menemukan” sebuah hal baru dalam suatu bidang tertentu.

    Ada asap pasti ada api, segala permasalahan tersebut pasti ada penyebabnya, di samping materi (mungkin) seperti yang saya baca di pada komentar2 tulisan ini, satu lagi permasalahan adalah kurangnya tenaga pendidik, rasio perbandingan antara peserta didik dan tenaga pendidik masih belum seimbang sehingga mengikibatkan kontrol menjadi lebih susah, jangankan untuk melakukan mekanisme kontrol .. mengenal peserta didik saja susah, jadi bagaimana mau menilai dari sisi proses pendidikan ? yang bisa di nilai hanya proses akhirnya saja alias ujian so akibatnya adalah seperti yang sudah saya kemukakan diatas

  18. Hebat Om Adi..

    Saya enggak akan terlalu banyak berkomentar tentang tulisan ini, karena memang keadaan di Indonesia sudah seperti itu adanya. Klo di ibaratkan seperti mengurai benang kusut yang menyangga seseorang dari terjatuh ke jurang. Jika kita sampai salah mengurai atau salah memotong benang. Maka terjatuhlah orang itu.

    Nah seperti itulah carut marutnya seluruh aspek kehidupan di indonesia, baik dari pendidikan sampai hal yang paling mendasar yaitu soal “isi perut”.

    Segitu aza om komentarnya.

    Kemana aza atuh…?

Leave a Reply