<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Adi Nuryanto's Weblog</title>
	<atom:link href="http://adinuryanto.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adinuryanto.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jun 2008 14:49:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by agienthea</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-19</link>
		<dc:creator>agienthea</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 14:49:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-19</guid>
		<description>Hebat Om Adi.. 

Saya enggak akan terlalu banyak berkomentar tentang tulisan ini, karena memang keadaan di Indonesia sudah seperti itu adanya. Klo di ibaratkan seperti mengurai benang kusut yang menyangga seseorang dari terjatuh ke jurang. Jika kita sampai salah mengurai atau salah memotong benang. Maka terjatuhlah orang itu.

Nah seperti itulah carut marutnya seluruh aspek kehidupan di indonesia, baik dari pendidikan sampai hal yang paling mendasar yaitu soal &quot;isi perut&quot;.

Segitu aza om komentarnya.

Kemana aza atuh...?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hebat Om Adi.. </p>
<p>Saya enggak akan terlalu banyak berkomentar tentang tulisan ini, karena memang keadaan di Indonesia sudah seperti itu adanya. Klo di ibaratkan seperti mengurai benang kusut yang menyangga seseorang dari terjatuh ke jurang. Jika kita sampai salah mengurai atau salah memotong benang. Maka terjatuhlah orang itu.</p>
<p>Nah seperti itulah carut marutnya seluruh aspek kehidupan di indonesia, baik dari pendidikan sampai hal yang paling mendasar yaitu soal &#8220;isi perut&#8221;.</p>
<p>Segitu aza om komentarnya.</p>
<p>Kemana aza atuh&#8230;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by Qenthank</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-18</link>
		<dc:creator>Qenthank</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 03:48:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-18</guid>
		<description>Nah sekarang komentar serius (serius mode On)

Ada yang perlu di luruskan kembali dalam konsep pendidikan di Indonesia. Sesungguhnya konsep pendidikan masih belum dalam taraf seperti yang Om Adi sampaikan di atas, dalam artian konsep pendidikan di Indonesia masih sampai kepada taraf &quot;Pengajaran&quot; di mana yang lebih di tekankan adalah pertemua tatap muka di depan kelas antara &quot;yang mengajar&quot; dan yang &quot;di ajar&quot; yang menghasilkan nilai .. just it.  Sehingga apa yang terjadi ? out put yang di hasilkan kebanyak mencipatakan &quot;penghapal-penghapal&quot; demi mencapai perolehan nilai yang baik (orientasi nilai).

Belum pernah saya lihat (atau emang saya yang kuper yak) bahwa kegiatan belajar mengjar bersifat mendidik, di mana outpun peserta didik yang di hasilkan adalah orang-orang yang mampu menganalisa dan sesuatu mencari solusi suatu permasalahan (problem solving) apalagi sampai pada tahap &quot;menemukan&quot; sebuah hal baru dalam suatu bidang tertentu.

Ada asap pasti ada api, segala permasalahan tersebut pasti ada penyebabnya, di samping materi (mungkin) seperti yang saya baca di pada komentar2 tulisan ini, satu lagi permasalahan adalah kurangnya tenaga pendidik, rasio perbandingan antara peserta didik dan tenaga pendidik masih belum seimbang sehingga mengikibatkan kontrol menjadi lebih susah, jangankan untuk melakukan mekanisme kontrol .. mengenal peserta didik saja susah, jadi bagaimana mau menilai dari sisi proses pendidikan ? yang bisa di nilai hanya proses akhirnya saja alias ujian so akibatnya adalah seperti yang sudah saya kemukakan diatas</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nah sekarang komentar serius (serius mode On)</p>
<p>Ada yang perlu di luruskan kembali dalam konsep pendidikan di Indonesia. Sesungguhnya konsep pendidikan masih belum dalam taraf seperti yang Om Adi sampaikan di atas, dalam artian konsep pendidikan di Indonesia masih sampai kepada taraf &#8220;Pengajaran&#8221; di mana yang lebih di tekankan adalah pertemua tatap muka di depan kelas antara &#8220;yang mengajar&#8221; dan yang &#8220;di ajar&#8221; yang menghasilkan nilai .. just it.  Sehingga apa yang terjadi ? out put yang di hasilkan kebanyak mencipatakan &#8220;penghapal-penghapal&#8221; demi mencapai perolehan nilai yang baik (orientasi nilai).</p>
<p>Belum pernah saya lihat (atau emang saya yang kuper yak) bahwa kegiatan belajar mengjar bersifat mendidik, di mana outpun peserta didik yang di hasilkan adalah orang-orang yang mampu menganalisa dan sesuatu mencari solusi suatu permasalahan (problem solving) apalagi sampai pada tahap &#8220;menemukan&#8221; sebuah hal baru dalam suatu bidang tertentu.</p>
<p>Ada asap pasti ada api, segala permasalahan tersebut pasti ada penyebabnya, di samping materi (mungkin) seperti yang saya baca di pada komentar2 tulisan ini, satu lagi permasalahan adalah kurangnya tenaga pendidik, rasio perbandingan antara peserta didik dan tenaga pendidik masih belum seimbang sehingga mengikibatkan kontrol menjadi lebih susah, jangankan untuk melakukan mekanisme kontrol .. mengenal peserta didik saja susah, jadi bagaimana mau menilai dari sisi proses pendidikan ? yang bisa di nilai hanya proses akhirnya saja alias ujian so akibatnya adalah seperti yang sudah saya kemukakan diatas</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by Qenthank</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-17</link>
		<dc:creator>Qenthank</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 03:15:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-17</guid>
		<description>Passss .... mbuka blog om adi malem2 langsung ngantuk, cocok untuk orang yang mendirita insomnia .. (heheh canda om)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Passss &#8230;. mbuka blog om adi malem2 langsung ngantuk, cocok untuk orang yang mendirita insomnia .. (heheh canda om)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by adinuryanto</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-16</link>
		<dc:creator>adinuryanto</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 02:56:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-16</guid>
		<description>Untuk pernyataan kawan oji &quot;Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?&quot;

Menurut saya ini pertanyaan jebakan. Jebakannya lebih bersifat psikologis. Semua pengetahuan itu baik dan ada manfaatnya. Kalo kita berorientasi kepada materi, maka pikiran kita tidak akan pernah tenang, dan tidak akan pernah cukup mengejar materi. 

Sebaliknya, jika kita mengejar pengetahuan, maka materi pun akan ikut. Saya katakan sebelumnya bahwa program/kegiatan pun seharusnya didanai oleh &#039;dana yang tidak terbatas&#039; untuk mencapai kesejahteraan umat manusia. Kata kuncinya adalah pengetahuan. Dan bukan materi.

Pengetahuan mengenai fenomena alam, adalah terus menerus merenungkan kejadian alam dan kita akan terus mencoba mendekati dengan gagasan-gagasan dan model-model matematis untuk dapat memprediksi terjadinya fenomena alam berikutnya atau memprediksi apa yang menjadi akibat-akibat yang akan ditimbulkannya, untuk selanjutnya mungkin kita dapat juga mengolahnya, atau memberikan peringatan kepada manusia untuk menghindari dan mengevakuasinya.

Sistem informasi geografis untuk memprediksi bahaya banjir, bahaya ledakan gunung berapi, bahaya kebakaran hutan dan lain-lain bahaya bencana alam, akan bermanfaat untuk mengurangi resiko akibat bencana tersebut dan pada akhirnya menyelamatkan banyak hidup umat manusia. Dan pemerintah seharusnya berpikir untuk mendanai project GIS seperti ini yang jelas-jelas telah membantunya untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Sistem informasi geografis yang memetakan daerah aliran sungai, dapat digunakan untuk mengelola sumber daya aliran sungai untuk diolah menjadi tenaga air untuk membangkitkan listrik. SIG yang dapat secara komprehensif menyajikan potensi aliran sungai, kapan surut, kapan berpotensi, dan kapan akan habis, atau bahkan akan bertahan sekian puluh atau ratus tahun, sangat bermanfaat untuk memperkirakan ketersediaan sumber listrik berbangkit tenaga air. Sistem informasi geografis yang dapat menyajikan peta sumber panas bumi juga dapat membantu pemerintah untuk mencari daerah-daerah berpotensi menyediakan tenaga panas bumi.

Kembali kepada pertanyaan kawan oji, apakah masih ada mahasiswa yang merasa menyesal masuk jurusan geodesi. Saya kira pertanyaan ini konyol, dan tidak menghargai pengetahuan. Saya kira maksud kawan oji adalah bahwa proses pendidikan yang ada di departemen geodesi manapun telah mengajarkan hal yang keliru, sehingga mahasiswa geodesi merasa tidak mendapatkan apapun dari perkuliahan geodesi. Atau dengan kata lain menyesal, padahal pengetahuan tentang fenomena alam sangatlah luar biasa, ilmu pengukuran bumi adalah tidak banyak yang memperkirakan bahwa posisi di manapun di muka bumi dapat ditentukan secara akurat sehingga tidak satu lokasipun dapat lolos dari pengamatan satelit global.


Hghhh... saya sangat tergelitik memang dengan pertanyaan kawan oji tersebut yang dirasakan saat memasuki tingkat II pada masa perkuliahan. Dan saya juga sangat gerah melihat bahwa pengetahuan telah dinomorduakan, entahlah itu oleh proses pendidikan maupun oleh para pemangku pendidikan, yang bertanggungjawab atas pendidikan itu sendiri, yang katanya mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk pernyataan kawan oji &#8220;Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?&#8221;</p>
<p>Menurut saya ini pertanyaan jebakan. Jebakannya lebih bersifat psikologis. Semua pengetahuan itu baik dan ada manfaatnya. Kalo kita berorientasi kepada materi, maka pikiran kita tidak akan pernah tenang, dan tidak akan pernah cukup mengejar materi. </p>
<p>Sebaliknya, jika kita mengejar pengetahuan, maka materi pun akan ikut. Saya katakan sebelumnya bahwa program/kegiatan pun seharusnya didanai oleh &#8216;dana yang tidak terbatas&#8217; untuk mencapai kesejahteraan umat manusia. Kata kuncinya adalah pengetahuan. Dan bukan materi.</p>
<p>Pengetahuan mengenai fenomena alam, adalah terus menerus merenungkan kejadian alam dan kita akan terus mencoba mendekati dengan gagasan-gagasan dan model-model matematis untuk dapat memprediksi terjadinya fenomena alam berikutnya atau memprediksi apa yang menjadi akibat-akibat yang akan ditimbulkannya, untuk selanjutnya mungkin kita dapat juga mengolahnya, atau memberikan peringatan kepada manusia untuk menghindari dan mengevakuasinya.</p>
<p>Sistem informasi geografis untuk memprediksi bahaya banjir, bahaya ledakan gunung berapi, bahaya kebakaran hutan dan lain-lain bahaya bencana alam, akan bermanfaat untuk mengurangi resiko akibat bencana tersebut dan pada akhirnya menyelamatkan banyak hidup umat manusia. Dan pemerintah seharusnya berpikir untuk mendanai project GIS seperti ini yang jelas-jelas telah membantunya untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.</p>
<p>Sistem informasi geografis yang memetakan daerah aliran sungai, dapat digunakan untuk mengelola sumber daya aliran sungai untuk diolah menjadi tenaga air untuk membangkitkan listrik. SIG yang dapat secara komprehensif menyajikan potensi aliran sungai, kapan surut, kapan berpotensi, dan kapan akan habis, atau bahkan akan bertahan sekian puluh atau ratus tahun, sangat bermanfaat untuk memperkirakan ketersediaan sumber listrik berbangkit tenaga air. Sistem informasi geografis yang dapat menyajikan peta sumber panas bumi juga dapat membantu pemerintah untuk mencari daerah-daerah berpotensi menyediakan tenaga panas bumi.</p>
<p>Kembali kepada pertanyaan kawan oji, apakah masih ada mahasiswa yang merasa menyesal masuk jurusan geodesi. Saya kira pertanyaan ini konyol, dan tidak menghargai pengetahuan. Saya kira maksud kawan oji adalah bahwa proses pendidikan yang ada di departemen geodesi manapun telah mengajarkan hal yang keliru, sehingga mahasiswa geodesi merasa tidak mendapatkan apapun dari perkuliahan geodesi. Atau dengan kata lain menyesal, padahal pengetahuan tentang fenomena alam sangatlah luar biasa, ilmu pengukuran bumi adalah tidak banyak yang memperkirakan bahwa posisi di manapun di muka bumi dapat ditentukan secara akurat sehingga tidak satu lokasipun dapat lolos dari pengamatan satelit global.</p>
<p>Hghhh&#8230; saya sangat tergelitik memang dengan pertanyaan kawan oji tersebut yang dirasakan saat memasuki tingkat II pada masa perkuliahan. Dan saya juga sangat gerah melihat bahwa pengetahuan telah dinomorduakan, entahlah itu oleh proses pendidikan maupun oleh para pemangku pendidikan, yang bertanggungjawab atas pendidikan itu sendiri, yang katanya mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by adinuryanto</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-15</link>
		<dc:creator>adinuryanto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 07:55:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-15</guid>
		<description>Sepertinya kita harus cukup serius mendalami arti sinergi dan kolaborasi. Kawan Fauzi telah mengajak kita untuk terus berdialog, memberi kesempatan kepada siapapun untuk memberikan masukan terhadap pendidikan geodesi dan geomatika yang lebih baik. Kawan Soni pun telah memberikan contoh.

Bola salju kolaborasi ini harus digulirkan. Kita harus merapat, saling menempel, membentuk bola salju yg lebih besar, dan bergerak-bergulir supaya berubah menjadi lebih besarlagi. Bagaimana caranya? Sedangkan kita masing-masing terpisah jarak dan waktu? Dan juga terpisah bidang pekerjaan dan komitmen dengan atasan dan organisasi masing-masing?

Saya ingatkan lagi. Masing-masing kita berkembang dengan alami, dengan caranya sendiri-sendiri, namun ingat, kita masih belum merasakan makna pendidikan geodesi dan geomatika yang membuat kita tetap terikat pada almamater. Mungkin harus diakui, kita terikat di sini, saling berbagi pendapat, mungkin hanya karena kita juga telah mandiri secara individu.

Seharusnya kita terikat disini, karena kita cinta almamater. Seharusnya kita saling berdiskusi di sini, karena mengingat betapa kita sekarang mandiri karena dibangun oleh padatnya informasi dan kegiatan penelitian, pengajaran, praktik, kuliah kerja, penulisan ilmiah, yang terangkum dalam proses Pendidikan selama di kampus dulu. Tapi saya kira tidak. 

Saya bukan anak (alumni mahasiswa) yang durhaka pada orang tua (para dosen dan jajarannya), dan bukan sedang melawan beliau yang telah mendidik dalam proses pendidikan di kampus. Tetapi bahkan, saya juga ingin &#039;orang tua&#039; yang telah mendidik kita di kampus juga mulai berpikir, untuk dapat mencetak anak-anak yang lebih berkualitas, dengan fasilitas yang lebih baik. Saya yakin, beliau-beliau pun bersedih, menyaksikan anak-anaknya tidak dididik dengan fasilitas yang cukup dan modern. Bukankah seharusnya setiap orang tua menginginkan hal yang demikian? 

Saya juga tidak mengatakan pendidikan di luar negeri sudah ada contoh. Bahkan saya katakan, belum ada model pendidikan ideal, bahkan di luar negeri, yang sangat maju, dan menghasilkan hal-hal yang maju. Memang telah ada berbagai teknologi yang disebutkan kawan Yayas. Tetapi saya yakin, manusia Indonesia pun mampu bila mau mempelajarinya, bahkan mengunggulinya. Mungkin ada kawan yang ingin share tentang orang Indonesia yang telah eksis di luar negeri. Saya kira banyak. Dan ini adalah inspirasi bagi kita bahwa kita bisa melakukan apa yg dilakukan oleh negara termaju sekalipun.

Yang saya ingin katakan adalah, bahkan kita mampu berbuat lebih, dan lebih maju, dan tidak perlu selalu berkiblat ke eropa dalam hal ilmu pengetahuan. Meniru kurikulum Jerman atau Italia atau negara manapun itu boleh, namun harus segera diadaptasi dengan muatan lokal, dan diserap ilmunya untuk ditemukan oleh kita sendiri peralatan yang serupa bahkan lebih baik. Konsepnya sederhana, gunakan metode ilmiah, dan terus berusaha, diiringi ketekunan, sabar, dan doa. Saya kira inilah mentalitas ilmuwan yang sesungguhnya.

Kuncinya, adalah pendidikan. Mari mulai dari pendidikan. Bukan dari ekonomi. Bukan dari politik. Jadi mari curahkan perhatian kita pada pendidikan, apapun masalah yang kita hadapi. Selamatkan anak-anak muda, kawan-kawan, adik-adik kita, dari pendidikan yang keliru!! Mari kita bela mereka!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya kita harus cukup serius mendalami arti sinergi dan kolaborasi. Kawan Fauzi telah mengajak kita untuk terus berdialog, memberi kesempatan kepada siapapun untuk memberikan masukan terhadap pendidikan geodesi dan geomatika yang lebih baik. Kawan Soni pun telah memberikan contoh.</p>
<p>Bola salju kolaborasi ini harus digulirkan. Kita harus merapat, saling menempel, membentuk bola salju yg lebih besar, dan bergerak-bergulir supaya berubah menjadi lebih besarlagi. Bagaimana caranya? Sedangkan kita masing-masing terpisah jarak dan waktu? Dan juga terpisah bidang pekerjaan dan komitmen dengan atasan dan organisasi masing-masing?</p>
<p>Saya ingatkan lagi. Masing-masing kita berkembang dengan alami, dengan caranya sendiri-sendiri, namun ingat, kita masih belum merasakan makna pendidikan geodesi dan geomatika yang membuat kita tetap terikat pada almamater. Mungkin harus diakui, kita terikat di sini, saling berbagi pendapat, mungkin hanya karena kita juga telah mandiri secara individu.</p>
<p>Seharusnya kita terikat disini, karena kita cinta almamater. Seharusnya kita saling berdiskusi di sini, karena mengingat betapa kita sekarang mandiri karena dibangun oleh padatnya informasi dan kegiatan penelitian, pengajaran, praktik, kuliah kerja, penulisan ilmiah, yang terangkum dalam proses Pendidikan selama di kampus dulu. Tapi saya kira tidak. </p>
<p>Saya bukan anak (alumni mahasiswa) yang durhaka pada orang tua (para dosen dan jajarannya), dan bukan sedang melawan beliau yang telah mendidik dalam proses pendidikan di kampus. Tetapi bahkan, saya juga ingin &#8216;orang tua&#8217; yang telah mendidik kita di kampus juga mulai berpikir, untuk dapat mencetak anak-anak yang lebih berkualitas, dengan fasilitas yang lebih baik. Saya yakin, beliau-beliau pun bersedih, menyaksikan anak-anaknya tidak dididik dengan fasilitas yang cukup dan modern. Bukankah seharusnya setiap orang tua menginginkan hal yang demikian? </p>
<p>Saya juga tidak mengatakan pendidikan di luar negeri sudah ada contoh. Bahkan saya katakan, belum ada model pendidikan ideal, bahkan di luar negeri, yang sangat maju, dan menghasilkan hal-hal yang maju. Memang telah ada berbagai teknologi yang disebutkan kawan Yayas. Tetapi saya yakin, manusia Indonesia pun mampu bila mau mempelajarinya, bahkan mengunggulinya. Mungkin ada kawan yang ingin share tentang orang Indonesia yang telah eksis di luar negeri. Saya kira banyak. Dan ini adalah inspirasi bagi kita bahwa kita bisa melakukan apa yg dilakukan oleh negara termaju sekalipun.</p>
<p>Yang saya ingin katakan adalah, bahkan kita mampu berbuat lebih, dan lebih maju, dan tidak perlu selalu berkiblat ke eropa dalam hal ilmu pengetahuan. Meniru kurikulum Jerman atau Italia atau negara manapun itu boleh, namun harus segera diadaptasi dengan muatan lokal, dan diserap ilmunya untuk ditemukan oleh kita sendiri peralatan yang serupa bahkan lebih baik. Konsepnya sederhana, gunakan metode ilmiah, dan terus berusaha, diiringi ketekunan, sabar, dan doa. Saya kira inilah mentalitas ilmuwan yang sesungguhnya.</p>
<p>Kuncinya, adalah pendidikan. Mari mulai dari pendidikan. Bukan dari ekonomi. Bukan dari politik. Jadi mari curahkan perhatian kita pada pendidikan, apapun masalah yang kita hadapi. Selamatkan anak-anak muda, kawan-kawan, adik-adik kita, dari pendidikan yang keliru!! Mari kita bela mereka!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by adinuryanto</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-14</link>
		<dc:creator>adinuryanto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 07:17:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-14</guid>
		<description>Saya sangat setuju sekali dengan rekan Ramdhan. Memang, apa yang diungkapkan rekan ramdhan sangat tepat. Saya menggarisbawahi, bahwa kekayaan geomorfologis yang dimiliki Indonesia adalah seharusnya melambangkan kekayaan pengetahuan manusia Indonesia. 

Mengapa? Karena, semakin kita dianugerahi potensi alam dan fenomena alam, maka akan semakin kita berusaha untuk memahami dan mengolah dan mengatasinya, dan ini berarti akan semakin luas pengetahuan kita. Dengan demikian semakin luas ladang amal kita. Hehehe... Memanfaatkan akal, membangun peradaban, menyelamatkan manusia yg hidup di atas garis rentetan gunung api bersumber dari rekahan lempeng tempat keluarnya magma super panas! Bukankah ini ladang pengetahuan dan ladang amal? Tentu, juga merupakan ladang proyek. Hanya saja pendanaan untuk ini haruslah tak terbatas, dalam arti kitapun mampu membangun pendapatan tak terbatas. Jangan lupa, potensi alam kita pun tak terbatas, yang berarti pendapatan tak terbatas juga.

Ini akan menjadi topik seru. Fenomena alam Indonesia memanggil para geodet dan geomaticers..  Terimakasih rekan Ramdhan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat setuju sekali dengan rekan Ramdhan. Memang, apa yang diungkapkan rekan ramdhan sangat tepat. Saya menggarisbawahi, bahwa kekayaan geomorfologis yang dimiliki Indonesia adalah seharusnya melambangkan kekayaan pengetahuan manusia Indonesia. </p>
<p>Mengapa? Karena, semakin kita dianugerahi potensi alam dan fenomena alam, maka akan semakin kita berusaha untuk memahami dan mengolah dan mengatasinya, dan ini berarti akan semakin luas pengetahuan kita. Dengan demikian semakin luas ladang amal kita. Hehehe&#8230; Memanfaatkan akal, membangun peradaban, menyelamatkan manusia yg hidup di atas garis rentetan gunung api bersumber dari rekahan lempeng tempat keluarnya magma super panas! Bukankah ini ladang pengetahuan dan ladang amal? Tentu, juga merupakan ladang proyek. Hanya saja pendanaan untuk ini haruslah tak terbatas, dalam arti kitapun mampu membangun pendapatan tak terbatas. Jangan lupa, potensi alam kita pun tak terbatas, yang berarti pendapatan tak terbatas juga.</p>
<p>Ini akan menjadi topik seru. Fenomena alam Indonesia memanggil para geodet dan geomaticers..  Terimakasih rekan Ramdhan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by adinuryanto</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-13</link>
		<dc:creator>adinuryanto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 07:07:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-13</guid>
		<description>mmm... kawan nurudin lebih melihat geodesi secara filosofis dan meluas sebagai &#039;pemetaan&#039; pemikiran, dalam hal ini bagaimana &#039;memetakan&#039; masalah pendidikan ini secara lebih komprehensif. Sangat masuk akal, persoalan2 sosial seperti ini dapat dipetakan dengan sistem informasi geografis. Apa saja itu? Misalkan pemerataan kualitas pendidikan berdasarkan wilayah, variasi tingkat buta huruf antar daerah, variasi kualitas guru antar daerah. Mungkin dalam tulisan berikutnya, dapat disimulasikan pemetaan masalah pendidikan di Indonesia. Termasuk, bagaimana variasi anggaran yang digunakan, sebagaimana om dudenx menyarankan untuk digenjot hingga 20% APBN/APBD, apakah seluruh daerah sudah care dengan hal ini, dibuktikan dengan grafik variasi alokasi anggaran per daerah yg dirasionalisasi dengan PAD masing-masing daerah. Ada yg tertarik untuk menyumbang ide?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mmm&#8230; kawan nurudin lebih melihat geodesi secara filosofis dan meluas sebagai &#8216;pemetaan&#8217; pemikiran, dalam hal ini bagaimana &#8216;memetakan&#8217; masalah pendidikan ini secara lebih komprehensif. Sangat masuk akal, persoalan2 sosial seperti ini dapat dipetakan dengan sistem informasi geografis. Apa saja itu? Misalkan pemerataan kualitas pendidikan berdasarkan wilayah, variasi tingkat buta huruf antar daerah, variasi kualitas guru antar daerah. Mungkin dalam tulisan berikutnya, dapat disimulasikan pemetaan masalah pendidikan di Indonesia. Termasuk, bagaimana variasi anggaran yang digunakan, sebagaimana om dudenx menyarankan untuk digenjot hingga 20% APBN/APBD, apakah seluruh daerah sudah care dengan hal ini, dibuktikan dengan grafik variasi alokasi anggaran per daerah yg dirasionalisasi dengan PAD masing-masing daerah. Ada yg tertarik untuk menyumbang ide?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by -soni-</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-12</link>
		<dc:creator>-soni-</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 14:35:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-12</guid>
		<description>Wah.. beurat euy, tulisan calon pejabat mah memang beda he2x…

Tapi kalau pendidikan di PT hampir sama, temen saya ngambil S2 di Tsukuba univ-japan karena sense nya sibuk proyek, kuliah satu semester di padatkan jadi satu hari, ga ada ujian akhir pas keluar nilainya A semua he2x.., ada juga temen di chiba univ dia ga ikut ujian akhir, sudah pasrah… tapi keluar nilai A juga, temen di belanda juga ngalami hal yang sama, jadi “sabelas-duabelas” jeung pendidikan PT di Indonesia, malah lebih berat di ITB, ngambil HPG &amp; STK sampai “hatrick”.. ha2x.. 

Dan kalau kita melihat sistem pendidikan dasar contohnya di jepang, ga ada yang namanya anak disuruh menghitung, membaca apalagi menghapal, yang ada hanya main!! tapi dengan seperti itu saya melihat semua “karakter” pada anak itu muncul, nah disitulah semua karakter yang baik terus di pupuk dan ditambah dan yang kurang baik diperbaiki.

Jadi kalau sudah masuk PT, pratikum di tinggalkan dosen, dosen nya sibuk ga pernah ngajar, ya ga masalah… mahasiswa sudah bisa mandiri apalagi di Indonesia juga akses internet sudah semakin canggih, butuh informasi G&amp;G tinggal akses “om google” beres deh.. he2x..

Jadi menurut saya masalah yang lain yang kurang di Indonesia adalah pembangunan karakter he2x...

Pengalaman temen saya di jepang setiap pagi masuk kantor satpam selalu ngasih salam sampai bungkuk-bungkuk segala padahal dia hanya pakai sepeda dan satpam itu pulang/pergi kantor pake honda jazz, begitu juga dengan tukang bersih2x walaupun datangnya seminggu 2x tapi setiap senin-kamis ruangan sudah bersih dan nyaman sangat profesional. begitu pula dengan atasannya walaupun istirahat hanya satu jam suka ngajak olah raga, ngobrol dengan sopan, santun dan sangat menghargai satu sama lain, bersinergi dan saling membantu dengan lainnya. dan pada jam kerja sibuknya minta ampun walaupun progress kerjaan hanya sedikit tapi sangat dihargai, atasannya hanya bilang walaupun kecil tapi sudah memberikan arti, terus kerjakan jangan terlalu banyak membaca dan berfikir tapi implementasikan supaya lebih menambah arti.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah.. beurat euy, tulisan calon pejabat mah memang beda he2x…</p>
<p>Tapi kalau pendidikan di PT hampir sama, temen saya ngambil S2 di Tsukuba univ-japan karena sense nya sibuk proyek, kuliah satu semester di padatkan jadi satu hari, ga ada ujian akhir pas keluar nilainya A semua he2x.., ada juga temen di chiba univ dia ga ikut ujian akhir, sudah pasrah… tapi keluar nilai A juga, temen di belanda juga ngalami hal yang sama, jadi “sabelas-duabelas” jeung pendidikan PT di Indonesia, malah lebih berat di ITB, ngambil HPG &amp; STK sampai “hatrick”.. ha2x.. </p>
<p>Dan kalau kita melihat sistem pendidikan dasar contohnya di jepang, ga ada yang namanya anak disuruh menghitung, membaca apalagi menghapal, yang ada hanya main!! tapi dengan seperti itu saya melihat semua “karakter” pada anak itu muncul, nah disitulah semua karakter yang baik terus di pupuk dan ditambah dan yang kurang baik diperbaiki.</p>
<p>Jadi kalau sudah masuk PT, pratikum di tinggalkan dosen, dosen nya sibuk ga pernah ngajar, ya ga masalah… mahasiswa sudah bisa mandiri apalagi di Indonesia juga akses internet sudah semakin canggih, butuh informasi G&amp;G tinggal akses “om google” beres deh.. he2x..</p>
<p>Jadi menurut saya masalah yang lain yang kurang di Indonesia adalah pembangunan karakter he2x&#8230;</p>
<p>Pengalaman temen saya di jepang setiap pagi masuk kantor satpam selalu ngasih salam sampai bungkuk-bungkuk segala padahal dia hanya pakai sepeda dan satpam itu pulang/pergi kantor pake honda jazz, begitu juga dengan tukang bersih2x walaupun datangnya seminggu 2x tapi setiap senin-kamis ruangan sudah bersih dan nyaman sangat profesional. begitu pula dengan atasannya walaupun istirahat hanya satu jam suka ngajak olah raga, ngobrol dengan sopan, santun dan sangat menghargai satu sama lain, bersinergi dan saling membantu dengan lainnya. dan pada jam kerja sibuknya minta ampun walaupun progress kerjaan hanya sedikit tapi sangat dihargai, atasannya hanya bilang walaupun kecil tapi sudah memberikan arti, terus kerjakan jangan terlalu banyak membaca dan berfikir tapi implementasikan supaya lebih menambah arti.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by Jie</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-11</link>
		<dc:creator>Jie</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 09:14:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-11</guid>
		<description>Sepakat denx.
Itulah yang diperlukan, masing2 berperan di dunianya masing2, dengan bersinergi, dan saling mensupport sehingga tercipta harmoni yang konstruktif.

Namun satu hal yang mungkin kadang2 dirasakan adalah kita mungkin berpikir telah berperan dengan maksimal dalam dunia kita, akan tetapi tidak demikian halnya dengan orang lain di dunia yang berbeda.

DIALOG,
Sharing,
itu mungkin yang harus sering dibuka.

Ajang dialog di forum seperti ini bisa jadi salah satu sarana yang dikembangkan untuk saling berbagi pengalaman, berkeluh kesah, dengan bebas.
Pertanyaan2 spt di bwh ini tentu bisa di-share dengan lepas:
Dunia kampus butuh apa dr diknas? dr kompani? dr alumni?
Dari kompani bisa share: lulusan spt apa yang dibutuhkan? kenapa enggan pake lulusan G&amp;G ITB?

Saya ingat jaman2 kul dulu, saat tahun II &amp; mulai masuk jurusan, pertanyaan yang selalu menggelitik: Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?
He3.. Pertanyaan2 itu masih ada di mahasiswa2 skr nggak ya? Blm denger euy</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepakat denx.<br />
Itulah yang diperlukan, masing2 berperan di dunianya masing2, dengan bersinergi, dan saling mensupport sehingga tercipta harmoni yang konstruktif.</p>
<p>Namun satu hal yang mungkin kadang2 dirasakan adalah kita mungkin berpikir telah berperan dengan maksimal dalam dunia kita, akan tetapi tidak demikian halnya dengan orang lain di dunia yang berbeda.</p>
<p>DIALOG,<br />
Sharing,<br />
itu mungkin yang harus sering dibuka.</p>
<p>Ajang dialog di forum seperti ini bisa jadi salah satu sarana yang dikembangkan untuk saling berbagi pengalaman, berkeluh kesah, dengan bebas.<br />
Pertanyaan2 spt di bwh ini tentu bisa di-share dengan lepas:<br />
Dunia kampus butuh apa dr diknas? dr kompani? dr alumni?<br />
Dari kompani bisa share: lulusan spt apa yang dibutuhkan? kenapa enggan pake lulusan G&amp;G ITB?</p>
<p>Saya ingat jaman2 kul dulu, saat tahun II &amp; mulai masuk jurusan, pertanyaan yang selalu menggelitik: Masuk geodesi bisa apa? benarkah kita terjebak? kenapa tiba2 hrs belajar ngukur?<br />
He3.. Pertanyaan2 itu masih ada di mahasiswa2 skr nggak ya? Blm denger euy</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Rethinking Geodesy and Geomatics Education in Indonesia (RG2E) by adinuryanto</title>
		<link>http://adinuryanto.wordpress.com/2008/04/16/rethinking-geodesy-and-geomatics-education-in-indonesia-rg2e/#comment-10</link>
		<dc:creator>adinuryanto</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 08:46:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://adinuryanto.wordpress.com/?p=3#comment-10</guid>
		<description>Om Dudi mengajarkan banyak hal, nantinya poin-poin masalah yg disampaikan kang heri andreas dan om Dudi akan jadi topik-topik pembahasan berikutnya. Menurut saya, om Dudenk menyoroti pada topik-topik berikut:
- saling kerjasama, merupakan konsep kekompakan yang harus dikedepankan dalam mencapai satu tujuan. Kekompakan mengandung arti persamaan, dan persamaan mengandung arti tidak memandang gelar atau jabatan dalam pengertian lebih mengutamakan kolaborasi dan semakin besar kolaborasi (lihat referensi &#039;wikinomics&#039;: konsep mass-collaboration, oleh Don Tapscott.) Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, manajemen kampus, industri, pemerintah, rakyat kecil, parlemen, dll.
Tanpa kerjasama, negara ini sulit maju, negara dibangun oleh kelompok-kelompok usaha, kelompok masyarakat, kelompok ilmuan, dll, dan masing2 kelompok ini juga berorganisasi dengan tujuan dan AD/ART masing-masing namun dalam kerangka visi yang sama yakni demi kesejahteraan manusia.

- serapan lapangan kerja, harus ada konsep untuk menyerap pekerja dalam berbagai keahlian dan minatnya, apakah sebagai peneliti, administratif/struktural, pengusaha, pegawai, dll. dan masing-masing posisi saling berkolaborasi dan menghargai, karena masing-masing ini adalah komponen yg membangun satu bangunan, tdk dapat berdiri sendiri-sendiri.

- dukungan anggaran. menurut saya, dukungan anggaran untuk pendidikan haruslah tak terbatas, dalam pengertian bahwa program itu mendahului anggaran, artinya tidak boleh alasan keterbatasan anggaran itu menjadi penghambat program/kegiatan. harus dicari cara untuk mendapatkan anggaran sesuai dengan peruntukannya yg tepat.

Thanks dud.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Om Dudi mengajarkan banyak hal, nantinya poin-poin masalah yg disampaikan kang heri andreas dan om Dudi akan jadi topik-topik pembahasan berikutnya. Menurut saya, om Dudenk menyoroti pada topik-topik berikut:<br />
- saling kerjasama, merupakan konsep kekompakan yang harus dikedepankan dalam mencapai satu tujuan. Kekompakan mengandung arti persamaan, dan persamaan mengandung arti tidak memandang gelar atau jabatan dalam pengertian lebih mengutamakan kolaborasi dan semakin besar kolaborasi (lihat referensi &#8216;wikinomics&#8217;: konsep mass-collaboration, oleh Don Tapscott.) Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, manajemen kampus, industri, pemerintah, rakyat kecil, parlemen, dll.<br />
Tanpa kerjasama, negara ini sulit maju, negara dibangun oleh kelompok-kelompok usaha, kelompok masyarakat, kelompok ilmuan, dll, dan masing2 kelompok ini juga berorganisasi dengan tujuan dan AD/ART masing-masing namun dalam kerangka visi yang sama yakni demi kesejahteraan manusia.</p>
<p>- serapan lapangan kerja, harus ada konsep untuk menyerap pekerja dalam berbagai keahlian dan minatnya, apakah sebagai peneliti, administratif/struktural, pengusaha, pegawai, dll. dan masing-masing posisi saling berkolaborasi dan menghargai, karena masing-masing ini adalah komponen yg membangun satu bangunan, tdk dapat berdiri sendiri-sendiri.</p>
<p>- dukungan anggaran. menurut saya, dukungan anggaran untuk pendidikan haruslah tak terbatas, dalam pengertian bahwa program itu mendahului anggaran, artinya tidak boleh alasan keterbatasan anggaran itu menjadi penghambat program/kegiatan. harus dicari cara untuk mendapatkan anggaran sesuai dengan peruntukannya yg tepat.</p>
<p>Thanks dud.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
